» Hari ke berapa setelah menikah pasangan berhasil melakukan penetrasi yang membuat Anda kehilangan keperawanan?
» Menurut Anda, setelah berapa tahun bekerja idealnya seseorang mengajukan resign?
» Cara Anda menunda kehamilan:
» Anda lebih suka punya pacar berambut:




GAYA HIDUP

DUNIA PELANGI ANDREA HIRATA

Buku Laskar Pelangi yang ditulisnya bukan hanya bisa terjual hingga 500 ribu eksemplar (saat ini—dan belum termasuk bajakannya), tapi juga membuat dua buku selanjutnya dari Sang Pemimpi dan Edensor, sama larisnya. Tetralogi yag dibuatnya bakal ditutup oleh Maryamah Karpov, yang direncanakan terbit Agustus nanti.
Di tengah kesibukannya bolak-balik Bandung-Jakarta-Belitung, Andrea ngobrol bareng CC sambil menikmati makan siang di Jakarta….

Andrea Hirata (AH): Wah, saya sedang excited, nih, soal adaptasi ke film Laskar Pelangi.

Zornia (ZN): Sejauh mana progresnya?
AH:
Saya baru baca draft skenario Laskar Pelangi yang dibuat Salman Aristo (penulis skenario Ayat-ayat Cinta—red), Riri (Riza) dan Mira (Lesmana). Mereka menemukan angle baru di setiap bab. Dan itu memang saya harapkan. Kalau film sama dengan buku, what’s the point of making the movie?

ZN: Siap diprotes pembaca?
AH: Pembaca buku itu subjektif, fanatik dan sentimental, berbeda dengan penonton film. Bila ada sebuah karakter yang punya integritas di dalam buku, mereka nggak bisa menerima kenyataan bahwa di dunia nyata pemain karakter itu tidak punya integritas. Itulah tuntutan pembaca buku.
Makanya saya banyak dikirimi orang lingerie, kan? Sebenarnya tujuannya apa? Itu karena mereka terlibat secara emosional dengan buku saya. Mereka seperti melihat diri sendiri di dalam buku. Are they going to have sex with me? No....

ZN: Because you wouldn’t allow it or...?
AH: Ha ha ha…. Diskusi buku Laskar Pelangi belakangan, kan, sudah ‘seram’, sudah sampai 2.000 pengunjung. Dan saya lihat reaksi (pengunjung) juga sudah ke orangnya—saya dicubit-cubit sampai biru. Tapi saya melihatnya lebih ke betapa cerahnya dunia sastra Indonesia sebenarnya. Pembaca kita adalah sleeping giant. Kalau mereka menemukan sesuatu yang pas, dahsyat sebenarnya (reaksi mereka).

ZN: Menurut Anda, apa yang membuat Laskar Pelangi bisa jadi best seller?
AH: Saya pikir bukan karena Laskar Pelangi hebat, tapi karena masyarakat sudah berubah. Pertama, anak-anak yang dulu mendapat kampanye minat baca sekarang sudah SMA. Kedua, momentum. Setelah dirajai (genre) metropop, tiba-tiba (Laskar Pelangi) membawa pembaca pada karang-mengarang di SD dulu. Tentang memetik jambu di rumah nenek, tentang teman-teman sekolah saat berenang di sungai. Momennya pas!

ZN: Tampaknya pembaca buku-buku Anda lebih banyak perempuan....
AH:
Mungkin saya sendiri secara pribadi orang yang agak feminin. Dan 80% pembaca buku saya ternyata perempuan. Saya juga baru belakangan sadar ini buku (untuk) perempuan. Mungkin ada gaya penuturan tertentu yang lebih masuk ke situasi perempuan. Metaforanya, cara mendeskripsikannya, setting-nya.

ZN: Pernah terpikir bahwa ini buku perempuan banget saat menulis?
AH: Buku ini bukan untuk diterbitkan, tapi untuk hadiah kepada ibu guru saya (Ibu Muslimah—red). Saya pikir semuanya tidak direncanakan.
Orang suka bertanya, apa, sih, proses kreatif pembuatan karya-karya ini? Semuanya berdasarkan filosofi spontanitas saja, sebuah keberanian mencoba hal-hal baru. Sebuah pendekatan untuk memiliki point of view baru, misalnya memarodikan tragedi. Marah tanpa menyumpah-nyumpah, kritik tanpa memaki-maki, menyindir tanpa menyakiti.

ZN: Kalau dibaca lebih dalam, sebenarnya buku Anda cukup sinis, ya....
AH: Sinis, ya. Sebetulnya sebuah karya yang sakit, sedih, tragedi sesungguhnya kalau dikupas-kupas lagi. Cuma mencoba dibuat agak berbeda.

ZN: Proses dari karya spontan akhirnya jadi tetralogi?
AH: Ide tetralogi sesudah saya mengamati orang Laskar Pelangi. Saya, tuh, menerima banyak sekali tanggapan. Orang mengatakan mereka terinspirasi karya ini. Saya pikir, ini sebuah kesempatan bagi saya untuk menggambarkan sosiologi masyarakat Melayu secara utuh. Dengan standing point saya, sebagai aku, Ikal. Dan dia tidak bisa hanya diwakili oleh sebuah buku.

ZN: Anda pakai riset juga?
AH: Definisi riset luas. Saya tidak riset untuk menemukan cerita. Untuk membuat intensitas tulisan, itulah riset saya. Tetralogi ini berdasarkan memoar, tidak ada fact finding berdasarkan riset. Jika saya ingin bercerita tentang kebun di sekolah saya, ingin bercerita tentang bunga mawar merah, berbagai suplir, saya pengen tahu ini dalam familia apa.

ZN: Menurut Anda, sebenarnya apa, sih, yang didapatkan pembaca buku-buku Anda?
AH: Laskar Pelangi bisa sampai begini antara lain karena orang mulai mencari substansi, mulai mencari konteks. Saya bergerak dari konteks, sebab saya tidak punya pendidikan sastra, tidak punya pengalaman sastra, tidak bergaul dengan orang sastra.
Tadinya hanya ’sastra saya’. Ternyata itulah yang dibutuhkan pembaca sekarang, seperti pada karya bagus yang juga saya kagumi, Ayat-ayat Cinta. Saya kira saya dan Habiburrahman El Shirazy sama-sama bukan orang sastra, tapi kami bisa kuat di konteks. Sastra itu adalah kendaraan untuk menyampaikan ide-ide itu. Kami bukan bergerak di dalam teks.
Dan saya nggak melihat bagaimana teks itu bisa punya konteks luas dalam sastra Indonesia. Buktinya, sastra-sastra teks kalau diskusi dihadiri 40 orang itu sudah banyak. Sekarang diskusi Laskar Pelangi di Aceh panitia jual tiket 100 ribu, sold out.

ZN: Anda merasa ’kendaraan’ Anda ini mengambil keuntungan?
AH: Saya nggak melihat begitu. Saya melihat inilah momentum bagi semua orang, bagi sastra Indonesia. Di luar negeri, bisa lebih mahal dari itu. Jadi orang di luar negeri diskusi sastra jual tiket juga mahal, makanya eksklusif.
Kenapa sastra kita tidak diapresiasi orang seperti di luar negeri? Karena kita marjinal dan pelaku di dalamnya senang banget memarjinalkan diri sendiri. Menurut saya diskusi sastra jual tiket, tentu saja lihat situasinya. Saya banyak diundang oleh sekolah, pesantren, itu malah mau dibayar nggak mau.
Belakangan, manajemen saya sudah (pasang) tarif 30 juta sekali bicara. Pernah terpikir pembicara sastra bisa begitu? Itu tarif pembicara bisnis atau marketing. Saya pikir, ya sudah nggak apa-apa, memang saatnya tingkat apresiasinya begitu.

ZN: Bukan komersialisasi?
AH: Bukan, (itu) apresiasi, agar dunia sastra tidak dianaktirikan, tidak jauh di bawah gemah ripah dunia film, dunia musik, karena itu juga sebuah pekerjaan seni. Saya pikir nggak apa-apa, karena yang mengundang perusahaan-perusahaan komersial yang sangat besar.
Kami jadi pelopor, jadi martir. Ilmu sastra sama berharganya sama ilmu marketing, bahkan jangan-jangan lebih. Jadi, ketika perusahaan besar mengundang, saya pasang harga mahal—terserah, take it or leave it. Tapi saya punya program Laskar Pelangi in Action. Program itu sudah berjalan, dan semuanya dibiayai harga dari seminar-seminar, royalti buku dan film.

ZN: Bentuknya apa?
AH: Kelas umum, untuk anak kelas 3 SMP dan SMA, cuma  untuk 5 mata pelajaran: matematika, fisika, biologi, kimia dan Bahasa Inggris. Dan saya bertekad tidak akan membuat proposal ke mana-mana untuk minta dana. Semuanya dari kantong pribadi. Kalau mau nyumbang, saya sebut MLM intelektualitas. Jadi Anda nyumbang intelektualitas, seperti mengajar di sana. Saya nggak menerima bantuan uang.
Tapi anehnya di beberapa tempat sudah ada yang mengatasnamakan Laskar Pelangi in Action sedang cari dana. Baru-baru ini kami dapat laporan di Yogya. Ada orang yang mengumpulkan dana untuk mencari dan menfilmkan kehidupan setiap anggota Laskar Pelangi. Aduh, crazy!

ZN: Jadinya seperti eforia, dan banyak sekali yang memanfaatkannya, ya?
AH:
Padahal saya ingin eforia ini ke arah positif. Ini saatnya profesor-profesor sastra, orang-orang sastra, tuh, jangan melarat lagi. Dihargai, karena apa yang mereka bicarakan dalam sebuah diskusi adalah kristalisasi pengalaman hidup ini.
Jadi, manfaatkan momen yang orang bilang momen kebangkitan ini, dengan Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Sudah bukan saatnya lagi memperlakukan sastra sebagai diskusi mojok atau yang hadir 15 orang.

ZN: Dari tiga buku yang sudah terbit, mana favorit Anda?
AH: Sebenarnya saya nggak boleh membeda-bedakan karya-karya saya. Tapi buku ketiga, Edensor, saya justru kurang confident. Dari segi penulisan, saya rasa perjalanan ke luar negeri itu paling tidak menyumbang dalam proses kreatif saya menulis.
Menulis cerita perjalanan itu sangat tidak mudah. Karl May juaranya. Dulu  saya sangat confident dengan Sang Pemimpi. Tapi Edensor saya rasa bukan saya.

ZN: Tapi tetap saja bagian itu harus ada di tetralogi Anda?
AH: Ya, itu konsekuensi dari tetralogi itu sendiri. Awalnya sebenarnya Edensor sangat tebal, lebih tebal dari Laskar Pelangi. Tapi saya sendiri yang memotongnya.

ZN: Walau nggak ada latar belakang sastra, pasti Anda punya bacaan favorit, dong....
AH: Waktu kecil saya nggak punya akses pada buku. Saya juga jarang baca, hanya sekali saya membaca sebuah novel sastra, judulnya If Only They Could Talk karangan James Herriot.
Tapi waktu saya pindah kerja dari Surabaya ke Medan, saya dapat tagihan dari kantor pos untuk kiriman paket, lebih dari setengah ton. Ternyata isinya buku. Jadi tanpa saya sadari, saya punya banyak buku. Jurnal antropologi, buku-buku statistik, finance, ekonomi. Saya itu ternyata kutu buku ilmiah. Membaca karya Karl May pun setelah menulis Laskar Pelangi.

ZN: Sastra dunia baru untuk Anda….
AH:
Ya, dan saya menemukan keindahan yang tidak terkira. Itu juga  penyemangat dari ide tetralogi. Pelan-pelan saya mulai teracuni dunia sastra. Dan saya menemukan ruang-ruang baru di dalam kepala saya untuk sastra.

ZN: Setelah tetralogi, akan ada karya lainnya?
AH: Pasti, saya tertarik. Tapi ada sedikit kendala, harus banyak pulang ke Belitung karena kondisi kesehatan ibu saya. Bila semuanya memungkinkan, saya akan menulis terus. Saya tertarik untuk menulis fable, tertarik untuk menulis buku anak-anak dengan cara berbeda, yang mencerdaskan mereka.
Malah saya tertarik dengan komik dan sekarang sedang belajar sketsa. Saya punya beberapa kenalan ilustrator, tapi saya mencintai prosesnya. Saya pikir ada kenikmatan sendiri kalau saya yang menggambarnya walaupun saya sama sekali tidak bisa menggambar.
Tapi saya, tuh, pemimpi. Bagi saya nggak ada yang nggak mungkin. Biarlah saya belajar, pelan-pelan.... Lihat saja tahun depan, saya bikin komik. Ayo taruhan sama saya tahun depan, saya bisa atau nggak. Bagaimana Andrea seorang penulis yang nggak bisa menggambar menjadi bisa. Kita buktikan.

ZN: Soal adaptasi Laskar Pelangi ke fim, sejauh mana Anda terlibat?
AH: Saya ini spekulatif walaupun tidak bermental penjudi. Maksudnya, saya ingin mencoba hal-hal baru. Saya berharap orang-orang film (juga) mencoba hal-hal baru dan mengambil risiko. Tapi saya berusaha untuk tidak mencampuri proses pembuatan film.
Dan saya pikir itu sehat. Saya menyarankan kepada penulis-penulis Indonesia yang ceritanya difilmkan jangan banyak ikut campur. Karena film sudah karya baru, karya tersendiri dan sineasnya yang menanggung semua risikonya. Kita harus tahu diri, itu bukan bidang kita.

ZN: Kecuali jadi sutradaranya juga....
AH: Maryamah Karpov sudah ditawar 2 miliar sama produser, padahal (bukunya) belum beredar, dan saya bisa jadi sutradaranya. Saya pikir, ngapain takut? Coba aja... mungkin saya ambil kursus directing di London. Soal teknis, kan, ada yang membantu. Tapi yang paling tahu karakter dalam buku, tuh, saya. Make sense, kan? Kenapa takut? Suatu hari saya harus menyutradarai film saya—catat, ha ha ha!

ZN: Anda masih bekerja di Telkom tapi sibuk juga untuk Laskar Pelangi. Ada conflict of interest?
AH: Saya sudah dapat izin. Saya kerja sebagai instruktur training di Pusat Pelatihan Telkom (Bandung). Kerja saya sudah nggak 9 to 5 lagi. Tadinya saya berpikir untuk konsen aja di dunia seni, tapi saya seorang pembosan luar biasa. Saya pikir saya bisa menikmati hidup dalam dua dunia. Kalau di Telkom saya kerja menggunakan otak kiri saya, kemudian di luar itu saya menggunakan otak kanan saya.
Sebenarnya perusahaan yang modern melihat bahwa yang saya lakukan justru berkontribusi lebih dari seorang pegawai yang duduk di depan komputer 9 to 5. Saya merupakan agen dari CSR (corporate social responsibility—red) edukasinya Telkom.

ZN: Karya Anda jadi best seller di Malaysia, dan Anda akan Lalu kerja sama dengan Kedubes Hungaria, nih....
AH: Ya, nantinya buku saya akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Slavia, sehingga bisa dibaca sebagian besar orang di Eropa Timur. Saya senang sastra Indonesia menembus Eropa Timur. Kalau menembus Eropa Barat atau Amerika, kan, sudah biasa. Mungkin Juli ini sudah proses penerjemahan.

ZN: Royalti sudah Anda pakai untuk program sosial. Untuk senang-senangnya?
AH: Nggak, saya nggak punya rencana senang-senang. It's enough for me. Saya tinggal 3 atau 4 tahun di Eropa dan I was not happy with that kind of living. Saya mencari arti yang lebih substantial dengan hidup saya. Makanya tujuan hidup saya itu (mendaki) Himalaya, bikin sekolah…. Ternyata rayuan-rayuan hedonis tidak membuat saya happy.

ZN: Jangan-jangan belum saja….
AH:
Terus terang sekarang royalti sudah banyak, I can do anything, I don’t have to work anymore basically. Dulu saya pernah kerja di Citibank di London, pernah jadi konsultan di sebuah biro konsultan terkenal, bergaji kalau dirupiahin puluhan juta. Ternyata hal-hal seperti itu tidak membuat saya happy. Pernah tinggal di Paris, tinggal di apartemen mewah, liburan ke sana kemari. Saya malah pengen berkelana naik kereta keliling India.
Saya sudah melewati masa-masa pahit juga. Menyerahkan seluruh masa remaja saya untuk bekerja demi sekolah, tapi saya juga mengalami kemenangan gilang gemilang saat saya dapat beasiswa Uni Eropa yang sangat kompetitif. Saya sekolah di salah satu sekolah terbaik di bumi ini (Université Paris Sorbonne—red). Jungkir-balik mengerjakan tugas dalam sebuah tantangan intelektualitas tinggi.
Tapi kehidupan itu sendiri membuat saya tertarik. Saya senang mengamati orang. Dan mungkin memang saya harus menulis karena saya senang mengamati sesuatu. Saya ingin melihat kehidupan orang di pulau terpencil, misalnya. Saya ingin tahu persepsi dia tentang hidup ini. Apa pendapat dia tentang presiden kita? Bagaimana kisah cintanya? Itu yang membuat saya happy.

ZN: Anda cocok, tuh, jadi pembuat film dokumenter….
AH: Bisa jadi, life is something yang luar biasa. Kehidupan orang buat saya itu membuat saya senang. Makanya saya nggak pernah mengidentikkan saya sebagai selebriti. Kadang-kadang saya nggak paham kenapa mereka rela antre berjam-jam untuk mendapatkan tandatangan saya.

ZN: Tapi mungkin saja kesuksesan Anda bisa jadi inspirasi orang?
AH: Ya, harus. Saya menjalani keputusan yang lama untuk tampil di publik. Dulu banyak tawaran wawancara sempat saya diamkan lama. Tapi dunia buku kita salah-salah nanti bisa berkembang jadi seperti TV. Dunia televisi di Indonesia, tuh, sudah nggak ketulungan. Jadi, bila kita memiliki karya yang dianggap orang memiliki value, terus kita diam saja, itu kita membiarkan karya-karya yang membodohi orang merajalela.
Jadi bila kita tidak encourage karya ini, nanti karya-karya ini tidak ada juga yang mengikuti. Saya sangat berharap, karya saya ada yang nyontek, tapi, kok, nggak kunjung muncul. Saya heran, apa mungkin susah menulis? Saya juga nggak tahu. Tulislah seperti itu. Saya menunggu-nunggu....

ZN: Ngomong-ngomong Andrea Hirata yang sekarang beda nggak dari yang dulu?
AH:
I’m still the same person. Saya juga punya attitude selalu mencoba-coba, tapi saya nggak berubah. Justru pas tinggal di Eropa saya merasa bukan saya. Club crawling di Inggris, pertama pengen tahu, seminggu-dua minggu bosan. Tapi gimana caranya backpacking gila-gilaan sempat memicu adrenalin saya.
 Saya banyak lihat orang Indonesia di luar negeri enjoy seperti itu. Mereka senang menempelkan dirinya dengan citra orang Barat, mengidentikkan diri sebagai orang modern yang metropolis. I have no problem with them.

ZN: Tampaknya Anda sudah melewati berbagai titik dalam hidup….
AH: Titik terendah betapa sulitnya hidup, betapa sulitnya sekolah. Saya merasakan titik tertinggi (di bidang) akademik. Saya ditawari S3 beasiswa di mana-mana di luar negeri, mungkin bisa jadi professor ekonomi. Titik tertinggi lagi bekerja di Citibank, London, 5 bulan saya berhenti.
 Hidup bertualang sampai kedinginan mau mati, kelaparan, pernah. Naik perahu 6 hari dari Belitung ke Jakarta buat kuliah sudah saya alami. Masa-masa susah di Eropa buka puasa sekalian sahur dengan sepiring nasi sudah saya alami. Tapi saya menemukan esensi saya sendiri, cengan cara menantang diri sendiri.
 Setiap orang punya (kisah) hidup masing-masing. Jadi, jika ada orang hidup enak sengaja menyusahkan diri karena mencontoh tokoh di Laskar Pelangi, menurut saya orang itu bodoh. Di dunia ini banyak hal yang menyedihkan, yaitu orang miskin yang berpikir miskin, tapi yang paling menyedihkan adalah orang kaya yang berpikir miskin.
 Tidak ada hubungan antara orang susah kemudian dia sukses. Banyak orang susah makin susah. Banyak orang senang  jadi susah. Orang susah jadi senang juga banyak. Kalau hidup senang, justru Anda punya resources lebih daripada orang lain untuk merealisasikan keinginan Anda. Anda bisa start duluan sementara orang susah harus mikirin perut dulu. Kalau sudah kaya, bersyukurlah, jangan menyusahkan diri. Anda kaya, cara berpikirnya harus kaya.

ZN: Jadi, seandainya masa kecil Anda nggak sulit, Anda tetap bisa membuat karya seperti Laskar Pelangi?
AH: Pasti, selama guru saya seperti Ibu Muslimah, yang membentuk saya. Jangan-jangan saya bisa lebih dari itu dan Anda ketemu saya di sini sebagai sutradara Hollywood, ha ha ha.
 Dulu, saya harus bekerja di dermaga 8 sampai 9 jam sehari untuk membiayai sekolah. What a waste of time! Kalau dulu saya kaya, jangan-jangan saya sudah punya novel, tinggal mengkhayal, punya laptop. Saya percaya sekali orang bisa berubah dengan mengubah cara pandangnya.

ZN: Termasuk soal mood?
AH: Buat saya mood itu privilege. Dulu saya nggak bisa pakai mood. Kalau saya nggak mood saya nggak makan. Saya punya waktu sedikit.

ZN: Nggak percaya kalau penulis itu moody?
AH: Saya percaya pada mood karena suasana hati orang, kan, berbeda. Kalau dia lagi mood nulis, jadilah tulisan. Kalau dia lagi nggak mood, ya nggak. Tapi saya nggak mengenal mood. Makanya saya menulis novel hanya hitungan minggu. Dan tidak pernah saya baca ulang.
 Saya dibesarkan dalam suatu keadaan di mana saya tidak bisa lengah. Kalau lengah, hidup saya susah. Dan itu lama-lama membentuk saya bahwa memang ada saatnya saya santai, dan nggak ngapa-ngapain. Tapi saya tidak akan toleransi diri untuk tidak berkarya karena saya nggak mood. Mood itu kemewahan bagi saya.
 Jadi orang yang moody itu adalah orang yang kaya. Kaya di dalam pengertian, royal dengan dirinya sendiri dan waktu. Orang yang memiliki kekayaan toleransi yang besar untuk membiarkan dirinya dibawa perasaannya. Luar biasa, kan?

ZN: Apakah kakak-kakak Anda juga berpikir demikian?
AH: Nggak, mereka kuli tambang. Cara berpikir mereka adalah bagaimana mendapatkan timah dari perut bumi dan mendapatkan istirahat yang cukup pada malam hari supaya ada tenaga besok lagi. Mereka sangat sederhana. Dan sebenarnya sayalah dalam keluarga yang masuk dalam kehidupan yang kompleks seperti ini.

ZN: Sering bolak-balik Bandung-Jakarta-Belitung, sebenarnya Anda lebih senang tinggal di mana?
AH:
Sebetulnya saya sedang ada di puncak kepenulisan ini, tapi hari demi hari keinginan saya adalah pulang, terutama untuk ibu saya yang sedang sakit. Saya setengah mengundurkan diri dari hiruk-pikuk ini. Saya pikir, inilah kesempatan saya, selama beliau masih ada.

ZN: Ibu Anda suka bertanya kapan Anda menikah?
AH: He he he... (Andrea tersenyum malu). Saya belum kepikiran ke sana karena saya sendiri belum pasti, walau ada keinginan.

ZN: Apa karena anda merasa belum ada perempuan yang bisa mengimbangi Anda?
AH:
Bisa jadi, karena begitu bangun tidur besok bisa saja keinginan saya berubah. Saya pengen ke Kanada. Kalau ada perempuan yang bisa menerima itu, ya mungkin bisa saja. Saya tahu itu nggak mudah.

ZN
FOTO: JENNIFER

Lokasi: Mal Taman Anggrek, Jakarta
Andrea: Beef teriyaki + tempura + orange juice
Zornia: Salmon teriyaki + iced green tea





 MEMBER LOGIN
EMAIL  
PASSWORD
SIGN UP!
Belum punya password? Silakan sign up di sini.

Lupa Password?

CC Nomor Ini

Isyu
Menyambut Banjir Kanal Timur

Intermezo
Mengintip Dua Film Imajinatif

Amor
12 Tipuan Mitos Cinta

Sehat Bugar
Kecil-Kecil Cabai Rawit

Dunia Kerja
Jurus Ampuh Tahan Godaan

Selebriti
Emily Blunt Ratu Muda Hollywood

Siapa Dia
Warna- warni Dunia Chelsea Olivia


CC Nomor Depan

CC Single
(Don’t) Hire Me, Please…

Hias Rias
'Membedah' Kuku

Sehat Bugar
Jangan Anggap Sepele!

Amor
Silakan, Deh, Sayang...

Dunia Kerja
Jika Aku Menjadi Bos...

Gaya & Cantik
The (Stylish) Geek

Seks
Let Me Control...

33 users online  
  ©2007 Interactive Media Div, Femina Group.