Dipecat atau terkena PHK, boro-boro bersenang-senang, membayar cicilan laptop atau motor saja kita sudah nggak mampu! Kita kudu segera bangkit dari kesedihan kalau nggak mau terus terjebak dalam situasi ini!
Getting fired is nature's way to tell you that you had the wrong job in the first place. (HallLancaster dalam The Wall Street Journal)
'Anda dipecat!' Siapa, sih, diantara kita yang nggak merasa shocked dan tertekan begitu mendengar kata-kata ini diucapkan atasan? Kehidupan kita yang awalnya serba teratur dan terencana pasti langsung berantakan begitu kita terkena pemutusan hubungan kerja alias PHK!
Selain nama baik yang jadi 'tercemar' karena berstatus 'pengangguran akibat dipecat', kita juga bertambah pusing karena nggak lagi memiliki penghasilan sendiri.
Intropeksi dulu
Nggak bisa dipungkiri kalau PHK selalu memberi dampak yang tidak menyenangkan dalam hidup kita. Apalagi jika pemecatan ini terjadi karena kita telah melakukan kesalahan yang cukup fatalbagi perusahaan. Hasilnya, nih, kita jadi merasa bersalah dan kepercayaan diripun menurun drastis.
Menurut Wesmira Parastuti, M.PSi (Mia), konsultan karier dari Wismira Psychological & Recruitment Services,perasaan bersalah dan rendah diri adalah dua hal pertama yang kudu diatasi begitu kita mengalami PHK. Kita juga nggak boleh larut dalam kesedihan dan justru harus memotivasi diri untuk terus berkarya.
“Wajar saja jika pada awalnya kita merasa ditolak, kecewa dan kesal, terutama bila mengingat PHK biasa menimpa seseorang dalam waktu singkat. Tapi kita mesti berhenti meratapi nasib dan menerima keadaan dengan jujur dan ikhlas. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sekadar penyesalan!”
Sambil melakukan intropeksi diri, janganlah ragu untuk membuka diri pada orang-orang terdekat kita. Berkeluh kesah tentulah dapat mengurangi beban di hati kita. Dengan adanya dukungan dari mereka, semangat kita untuk menutup lembaran lama dan memulai hidup baru juga bakal bertambah!
Maju terus!
Setelah melakukan intropeksi dan mengatrol kembali semangat hidup, segeralah menyusun rencana untuk masa depan. Mengirim CV ke beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang sama dengan perusahaan lama merupakan salah satu contoh langkah awal. Yang pasti, sih, carilah peluang di perusahaan yang menyediakan pekerjaan sesuai dengan kemampuan kita.
Jangan terpaku pada posisi yang sama dengan posisi kita di perusahaan sebelumnya. Kita boleh banget, kok, melamar untuk suatu posisi baru, apalagi jika di perusahaan lama kita pernah 'mencicipi' tugas-tugas posisi lainnya. Dulu pasti ada kalanya, kan, kita mengerjakan tugas yang agak menyimpang dari tugas utama kita dalam mengerjakan suatu proyek.
“Jika posisi kita dulu marketing, misalnya, sekarang kita sah-sah saja melamar posisi public relations.Apalagi jika kita pernah terlibat mengerjakan tugas-tugas divisi PR seperti mengatur acara dengan klien maupun mengontak biro iklan. Asal sesuai dengan pengalaman dan kemampuan kita, nggak ada salahnya, kok, melamar posisi baru,”kata Mia.
Tetap produktif
Memperoleh pekerjaan baru memang nggak secepat membalikkan telapak tangan. Terkadang kita memerlukan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum berstatus sebagai karyawan suatu perusahaan lagi. Sambil mengisi waktu, kita tetap kudu produktif menghasilkan hal positif, tuh!
Coba, deh, gali potensi dalam diri kita. Biasa bekerja sebagai sekretaris bukan berarti kita nggak memiliki keahlian lain, kan? Kalau kemampuan bahasa asing kita di atas rata-rata, bisa banget, tuh, kita mengajar privat untuk anak-anak sekolah atau mendaftar sebagai tutor di lembaga kursus terdekat!
“Waktu luang menunggu pekerjaan bisa kita manfaatkan untuk mendalami potensi diri, seperti menekuni bidang wirausaha yang sering kita impikan. Tentu saja kita bisa melakukannya dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Jika kita hobi membuat kue atau merangkai aksesori, misalnya, kini kita bisa menjualnya di pasaran,” tambah Mia.
Selain pekerjaan paruh waktu atau wirausaha, kita juga bisa menggunakan waktu yang kita miliki untuk menambah wawasan. Apalagi, nih, belakangan ini perusahaan hanya mempertahankan karyawan yang berkualitas tinggi karena mengalami krisis global. Jadi boleh saja kita menguras tabungan untuk mengikuti kursus yang mendukung pekerjaan kita nantinya seperti bahasa, fotografi hingga manajemen perkantoran!
Jujur dan terbuka
Setelah menunggu sekian lama akhirnya ada perusahaan yang tertarik dan ingin mewawancarai kita? Jangan sia-siakan kesempatan ini! Selain membekali diri dengan penampilan rapi dan sopan (contek gaya kantor CC!), kita kudu siap menjawab pertanyaan-pertanyaan sang pewawancara!
Kita mungkin sudah pernah mengalami proses ini saat melamar pekerjaan sebelumnya, tapi ada beberapa pertanyaan 'baru' yang mesti kita antisipasi, misalnya tentang alasan kita keluar dari perusahaan dulu. Sepahit apapun kenyataannya, untuk pertanyaan satu ini sebaiknya kita menjawab dengan jujur.
“Kalaupun dipecat karena kekhilafan kita, kemukakan kesalahan kita tersebut secara obyektif tanpa 'bumbu' apapun. Bersikap jujur adalah solusi tepat karena perusahaan sewaktu-waktu bisa mengecek riwayat kerja kita di perusahaan sebelumnya. Jika mengungkapkannya dengan baik, kita justru bakal mendapat nilai plus karena kejujuran kita!” ujar Mia.
Dijamin, deh, mengawali sesuatu dengan kejujuran bakal memperlancar jalan kita selanjutnya. Apalagi jika kita bisa menjadikan kesalahan kita di masa lalu sebagai bekal untuk memperbaiki performa kerja kita. Ditambah dengan komitmen kerja yang baik dan semangat juang yang tinggi, pada akhirnya pastilah ada perusahaan yang mau memperkerjakan kita! Tetap semangat! CC